Marah. Marah. Marah.

Sumber: http://imgkid.com/angry-cartoon-people.shtml


Marah. Sebagian besar manusia bisa marah. Sebagian kecil tidak bisa marah. Kenapa bisa kusimpulkan begitu? Karena di antara aku dan teman-temanku, hanya sebagian kecil saja atau terkadang aku saja yang tidak bisa marah.


Marah yang kumaksud di sini adalah ekspresi kemarahan yang diluapkan melalui kata-kata dengan bentakan, nada tinggi, seolah-olah ingin menghajar seseorang yang membuatnya marah. Terkadang aku iri dengan mereka yang bisa seekspresif itu. Saking irinya aku, hal itu terkadang juga masuk ke dalam mimpiku.

Ketika di dalam mimpi aku bisa marah, maka begitu bangun dari tidurku aku akan merasa lega, sangat lega dan plong luar biasa. Momen bangun tidurku pun akan dihiasi dengan senyum penuh kemenangan di wajahku. Tapi sayang sekali itu hanya mimpi.

Sebenarnya aku ingin sekali bisa marah penuh emosi dalam dunia nyata, tapi itu sukar sekali. Jika ada seseorang yang marah padaku pun, aku hanya bisa menerima kemarahannya itu dan bersabar. Tidak pernah aku melawan itu. Sebenarnya entah aku tidak bisa atau aku tidak mau mencoba.

Suatu saat pernah aku kesal pada sopir Metro Mini yang menurunkanku, temanku, dan kakakku beserta bayinya di tengah jalan sebelum tujuan yang ingin kami tuju, karena sopir itu ingin melewati jalan lain untuk menghindari macet. Sebenarnya aku pun tidak marah betul. Aku hanya bicara dengan nada yang lebih tinggi sedikit dari nada bicaraku biasanya.

Ketika sopir Metro Mini meminta kami turun, tapi dengan tetap melajukan Motro Mini nya pelan-pelan, saya pun kesal dan berkata: "Pak! Kalo saya bilang stop, ya stop, pak! Bawa bayi nih!" Pada saat itu saya senang, saya bisa "agak marah," dan rasa itu mengalir seiring dengan gemetarnya tanganku dan berdegup kencangnya jantungku, serta rasa lemas yang melandaku. Tak hanya itu, kedua mataku pun berkaca-kaca nyaris menitihkan air mata.

Momen seperti itu nyaris tak pernah aku alami dalam hidupku. Mungkin memang takdirku menjadi manusia yang kurang ekspresif dalam meluapkan kemarahan. Aku pasrah saja dan bersyukur bahwa aku dikarunia oleh Allah kesabaran yang lebih besar daripada kemarahan.

Bandara Soekarno-Hatta
Senin, 6 Oktober 2014
8.00 pagi

Ketika kulihat kalian yang mudah marah, 
aku pun hanya bisa terperangah.

Comments

Popular Posts