This is the story of my life, the sound of my heart, and the voice of my soul.
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Ketika Segala Hal Dipertanyakan
Sumber: http://imgarcade.com/1/question-man/
Manusia memang memiliki akal untuk berpikir. Apakah akal yang ada dalam diri manusia itu muncul begitu saja? Sebagian besar dari kita meyakini itu adalah pemberian Tuhan. Tuhan yang ada dalam setiap agama pun berbeda. Bagaimana dengan yang mempercayai adanya Tuhan, tetapi memilih untuk tidak beribadah kepada-Nya? Salahkah itu? Burukkah itu? Atau mungkin benarkah itu? Apa atau siapa yang bisa mengukur benar atau tidaknya sesuatu? Sebenarnya segala sesuatu itu akan tidak ada batasnya jika dipertanyakan terus menerus. Segala sesuatu yang kita ingin tahu belum tentu bisa terjawab. Itu bisa terjawab dalam Kitab Suci, entah itu Al-Quran, Injil, atau Taurat. Itu diyakini bagi manusia yang beragama. Nah, bagaimana dengan manusia yang menganggap bahwa agama itu bukan sesuatu yang harus diyakini, karena agama hanya merupakan produk budaya buatan manusia sebagai salah satu pedoman hidup? Golongan manusia ini berpikir bahwa Kitab Suci tidak bisa diuji kebenarannya, karena dibuat berabad-abad yang lalu. Kita sebagai manusia jaman ini tidak pernah berada pada titik itu, saat Kitab Suci itu dibuat. Apakah sebagai manusia yang memiliki akal kita perlu berpikir sejauh itu? Haruskah mempertanyakan segala hal yang ada di luar nalar dan logika? Haruskah semua berlogika dan bernalar? Dalam bercinta saja seringkali logika tidak diikutsertakan? Sesuatu yang tak bisa terjawab dan tak masuk akal, kan? Bagiku hidup itu pilihan. Manusia memilih apa yang ia yakini dalam hidupnya sebagai pedomannya dalam menjalani hidup. Apa yang baik menurutku belum tentu baik menurutmu. Apa yang benar menurutku belum tentu benar menurutmu. Apa yang aku yakini belum tentu dapat meyakinkanmu. Baik-buruk dan benar-salah bergantung pada apa yang manusia yakini. Jika segala sesuatu itu terus-menerus dipertanyakan, maka tidak mungkin akan ditemukan jawabannya. Akal, nalar, logika manusiapun tak memiliki kapasitas untuk itu. Jadi, balik lagi pada pilihan. Hidup itu tidak akan luput dari yang namanya "pilihan."
Comments