PURNAMA SENJA

Senja itu..kita bersama.
Melaju dengan sepeda motormu.
Melewati padatnya jalan raya, hingga sempitnya jalan tikus.
Menggila bersama, berteriak, bercerita, lalu terdiam.

Kemudian..
Bensin motormu nyaris tiris.
“Kalo mati sebelum nyampe pom bensin gimana?”, tanyamu.
“Ya kita turun. Jalan kaki”, kataku.
Dan kita terbahak bersama.
Untunglah..pas sekali.
Mesin motormu mati tepat di depan pom bensin.

Antrian panjang.
Ku tunggu di jalur keluar.
Duduk di trotoar.
Terdiam.
Termenung.
Melihat sekitar.
Ada pemandangan yang indah.
Kemudian sumringah.

Sekitar 15 menit, barulah kau menghampiri.
Ku tanya, “mau liat sesuatu ngga?”
Kau tanya kembali, “apa?”
“Tuh!”, sembari ku tersenyum dan menunjuk pada yang menyejukkan mata.
Panorama bulan purnama yang muncul ke permukaan.
Sementara di sisi lain, matahari sedang dalam proses persembunyiannya.
Kemudian kita bertatapan dan saling melempar senyum.

Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan.
Terlihat kembali purnama yang bulat sempurna.
Kali ini muncul di dekat pohon kelapa.
Dengan latar awan yang bertumpuk.
Menampilkan gradasi warna putih dan merah muda.
Lukisan nyata yang sangat elok.

Kemudian melewati rumah gadang.
Masih dengan latar yang sama.
Kemudian ku berseru, “ada api unggun!”.
Padahal itu hanya bakaran sampah.
Lalu kita mengakak bersama.

Masih jelas ketika itu.
Baik panorama dan suasana.
Terekam kuat dalam memori otak.
Namun..ingatkah kamu?

Senin, 5 Agustus 2013
8.49 pagi
di kamar

Comments

Popular Posts