Hari ini adalah ulang tahunku..

Sebagian besar manusia pasti akan berbahagia di hari ulang tahunnya, apalagi anak-anak. Kau tentu tau itu, karena kau pun pasti pernah ‘kecil’. Namun ketika usiaku sudah di atas 20, jarang sekali aku ‘bahagia’ di ulang tahunku. Ulang tahun bagiku adalah sebuah peringatan. Aku semakin dewasa; umur. Haruslah aku semakin dewasa; menjalani dan menyikapi persoalan kehidupan. Ulang tahun bagiku adalah peringatan bahwa semakin berkuranglah jatah hidup di dunia; berkurang 1 tahun. “Aku harus berubah menjadi yang lebih baik lagi”, begitulah seringkali keinginan itu ku panjatkan. Tak selalu di hari ulang tahun, bahkan mungkin setiap hari. Siapa yang tidak ingin berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi? Semua pasti ingin menjadi yang ‘baik’ dalam hal apapun. Hmm.. seiring bertambahnya usia, pasti membuat pikiranku semakin bercabang; baik perkara dunia, maupun perkara akhirat. Pada akhirnya, ulang tahun akan mengingatkanku pada kematian. Ya, manusia pasti akan mati entah kapan. Dan aku bersyukur masih diberi umur. Ya, kehidupan ini memang sangat menyenangkan. Begitu banyak keinginan, bahkan semakin banyak saja keinginan. Rasanya tak ada habisnya. Manusia memang tidak akan pernah puas. Seandainya selalu melihat ke ‘bawah’, manusia pasti akan senantiasa bersyukur. Jika melihat ke ‘atas’, pasti lah merasa tidak berkecukupan. Mau ini, mau itu. Mungkin kalau ditulis, satu lembar kertas A4 pun tak kan muat menampung semua pernyataan ‘keinginan’ itu. Dan jika dipanjatkan dalam doa, mungkin akan lama sekali. Hmmm.. Bolehkah berdoa kepada-Nya: “Ya Allah, kau tau yang ku mau. Amin” ? Haaah.. Ini bodoh. Katanya, “berdoa itu harus yang spesifik.” Dan kenapa tulisanku ini jadi ngalor-ngidul begini. Bukankah aku sedang berbicara tentang ‘ulang tahun’? Yaaa, itulah kehidupan. Saling terkait satu sama lain. Ketika berbicara tentang sesuatu, pasti tidak akan terlepas dari sesuatu yang lain. Apalagi aku. Seringkali ku menghubungkan antara satu hal dengan hal yang lainnya. Terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak begitu penting untuk dipikirkan. Begitu serius, penasaran, sehingga terus menyelidiki. Mungkin sesuai dengan arti nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku saat kelahiranku; 2 Juni 1990. “Fahsha” yang berasal dari bahasa Arab, yang seharusnya dilafalkan fahsho, yang artinya adalah ‘menyelidiki’. Seringkali orang terheran-heran kenapa namaku adalah Fahsha, karena jika dilafalkan seperti itu ya artinya memang ‘keji’. Tapi coba bayangkan, jika aku dipanggil “Fahsho”. Sungguh tak asik terdengar di telinga ini. Baiklah, mungkin aku akhiri saja curahan hatiku sampai di sini, karena tampaknya tulisan ini semakin tak karuan.

Selamat hari lahir, diriku!
Semoga di umurku yang kesekian, aku menjadi manusia yang semakin bijaksana!
Amin!

Minggu, 2 Juni 2013
8.00 pagi

Di kamar

Comments